Pages

Kamis, 26 Desember 2013

Wanita-wanita Shalihah Sekitar Kita part1



Satu pekan, dua cerita menyenangkan tentang wanita penuh semangat di usianya yang tak lagi terbilang muda.


Lahir di sebelah barat kota Jogja, lima puluh lima tahun lalu, bahkan sebelum metode Iqra terlahir, namun lantun tilawahnya mengalir indah, tajwidnya nyaris sempurna.

Azzamnya untuk terus belajar memperbaiki interaksi dengan Al-quran kian membuatku takjub, ia mampu menghafal huruf demi huruf pengecuali bacaan gunnah yang bahkan sulit dicerna oleh para ibu dibawah usianya, ia menghafalnya hanya dalam satu kali melihat dan mendengar, maasyaAllaah...

Bersamanya, dua jilid buku Tahsin metode MAQDIS lahap disantap hanya dalam waktu tiga hari, jangan tanyakan bagaimana aplikasinya saat tilawah, ia kereeen bangeeet! suer!


Cerita kedua yang tak kalah mengejutkan. Hanya tiga menit, aku meyapanya lewat placementest jelang kajian yang diminatinya : kelas maqomat.

Usianya lebih sepuh dibanding ibu dalam ceritaku yang pertama, gurat-gurat kerut di wajahnya tampak jelas, namun, seperti anak kecil dengan minat menggebu ia mengisi lembar data diri sebagai peserta baru, kemudian...
Suara jernihnya mengalir, menandaskan lima ayat surah Annaml tanpa bisa kujeda, mantap! dan sesaat setelah kejutan pertama itu, ia kembali membuat kejutan yang membuatku terbakar : "Sedikit-sedikit saya membimbing teman-teman di rumah, jadi harus apgrid diri sendiri.", senyumku terkembang mendengar kata asing yang diucapkannya, sedetik kemudian aku tergugu, seusianya nanti, sanggupkah aku sepertinya?


Karuniakan kebaikan bagi setiap orang yang sempat Engkau hadirkan dalam hidupku, Rabb... selalu...

Jumat, 29 November 2013

Alfatih


Ialah lelaki yang tak pernah sedikitpun kusisakan ruang diwajahnya untuk kukecup, 

yang tak pernah kubiarkan pagi berlalu tanpa ia yang kudekap.


Tunggu 'ammah ya de ^_^







Ialah lelaki yang tak pernah sedikitpun kusisakan ruang diwajahnya un
Ialah lelaki yang tak pernah sedikitpun kusisakan ruang diwajahnya
Ialah ikhwan yang tak pernah sedikitpun
Ialah lelaki yang tak pernah sedikitpun kusisakan

Kamis, 28 November 2013

Waaah...kangeeen...dah lama banget ga nulis...
Maaf ya buat kalian yang jadinya berdebar lebih lama karena nunggu tulisan baruku -hihihi, PeDe banget yak?!-

Hari-hariku terla
Waaah...kangeeen...dah lama banget ga nulis...Maaf ya buat kalian yang jadinya berdebar lebih lama karena nunggu tulisan baruku -hihihi, PeDe banget yak?!-
Waaah...kangeeen...dah lama banget ga nulis...
Waaah...kangeeen...dah lama banget ga nulis...Maaf ya buat kalian
Waaah...kangeeen...dah lama banget ga nulis...

Rabu, 06 November 2013

Kemuliaanmu, wahai Wanita




"Nak," kata ayah lembut.

"Menjadi wanita adalah hal hebat, segala jenis pekerjaan milik laki-laki akan sanggup dilakukan wanita, bahkan dengan lebihbaik.

Allah telah memuliakan wanita, dan tugas kepemimpinan adalah tugas para lelaki,

kau tahu kenapa?

karena pemimpin seharusnya adalah khadimah / pelayan bagi yang dipimpinnya.

Maka masihkah kau iri dengan tugas berat itu padahal Allah telah memuliakanmu dengan menjadikanmu 'yang (wajib) dilayani'?

Tak sedikitpun keraguan jika wanita pun bisa menjadi 'pelayan' yang baik, tapi ayah tahu kau tak akan pernah tega mendominasi segala.

Kau amat cerdas, kau memahami dengan sangat baik tugas utamamu :
menjadi madrasah pertama bagi generasi-generasi pengganti,

menjadi ibu yang rela bersusah payah mengandung, melahirkan bahkan menyusui putera-puterimu bertahun lamanya.

Itulah tugas mulia yang kami para laki-laki, tak akan pernah bisa mengantikannya."

Jumat, 25 Oktober 2013

Hafidzah itu... Pasti Tawadhu



Gelar Hafidzah itu baru tersemat jika ruh telah mencerai raganya.

Tak sebatas lisan.

Jika tanpa gerak, tanpa sikap, tanpa akhlak,

sepantasnyalah kau bergelar manusia tak tahu malu.


Bukankah kemudahan pun dariNya ?

Bukankah ia pun adalah peta kita berkehidupan ?

Maka penghambaanmu tak patut kau rusak,

dengan berbangga dan meng aku-aku.




Berdo'a,

dan jagan bosan.

Bergerak,

agar tawadhu. 



ok, Lih ^_^


Gelisah



Benar, terkadang iman kita gelisah.

Hingga Ibrahim meminta Allah menunjukkan caranNya menghidupkan,
"Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?"
"Aku yakin, hanya saja agar hati ini menjadi tentram."

Pun juga tentang do'a kekasih kita, jelang perang Badar yang menegangkan.

Benar, terkadang iman kita gelisah.

Akankah kebaikan yang selama ini kita perjuangkan sampai pada akhirnya yang juga baik?
Ataukah kita kan tergoda dengan sampah dunia yang terkemas begitu cantik.

Benar, terkadang iman kita gelisah.

Terkadang ia payah, terkadang ia terasing, terkadang ia takut...

Dan saat itu terjadi, terpejamlah! azamkan satu harap kebenaran:

 "Jika ini perintah Allah, Dia tak akan pernah menyia-nyiakan kami." 
dan bergeraklah, selalu dalam ridhoNya.



-Dalam Dekapan Ukhuwah-
Muroja'ah buku ini, banyak sekali hal terluput ternyata...T_T

Kamis, 24 Oktober 2013

The power of Nulis :D



Di dunia ini, akulah mungkin yang paling narsis.

Tiap-tiap deret kata yang ada pada blog ini, seorang setia membacanya, bahkan hingga berulang-ulang: aku.

Tulisan adalah media penting bagi kebodohanku, ia pengikat ilmu, begitu kata seorang 'aalim. Bagiku, ia bukan hanya pengikat ilmu, ia juga pengikat hikmah yang baik sekaligus jahat.

Ia baik saat aku merasa baik, ia mampu menyimpul ujung-ujung bibirku menjadi seulas senyum amat manis, membuatku ge-er tingkat tinggi : tulisannya bagus! -huuuuuu :p. Dan tentu saja ia membuatku sadar akan milyar-milyar hikmah yang tercecer, memotivasiku untuk tak malas menjitak-jitak huruf pada keyboard yang saat ini masih bukan milikku sendiri. Ia baik, sebaik perasaanku saat membacanya, aku mau terus belajar.

Sering kali, kejahatannya melampaui kebaikannya, ia jahat karena pada beberapa baris katanya ada selapis tajam yang mengiris rasaku, membuat mataku kaca. Kadang ia berubah, menjelma menjadi sosok algojo yang memukul uluhatiku keras sekali, hingga sesak, hingga roboh keangkuhanku, aku harus belajar!. Ya, ia seringkali jahat seiring burukku yang sering.

Teruslah menulis, bukan untuk orang lain tapi untukmu sendiri.
Karena ego kita terlalu kuat untuk menangkis segala nasehat, maka kalahkan ia dengan lembut hatimu yang kau tulis lebih dulu.
Berceritalah tentang kebaikan dan kemudian berbagilah, karena kita berharap menjadi 'jalan' kebaikanNya.
Dan terkadang, kau harus menahan karya kemarahan dan umpatanmu, tulislah jika itu membuatmu lega dan jangan sekalipun kau bagi, karena kita tak sama sekali ingin, menjadi 'jalan' keburukan bagi orang lain.

Kelak, mungkin kau akan sepertiku, menjadi bagian dari orang-orang narsis yang 'tergila-gila' pada tulisanmu sendiri, bukan karena bagus, puitis, ataupun nyastra.
Karena tulisan kita sendirilah yang akan menghapus kelalaian.

Hidup ini terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal kecil, kata David J. Schwartz, tapi menurutku, menuliskan hal-hal kecil yang terbaik dalam hidupmu akan membantumu menemukan syukur yang sempat lenyap.

Hmm...Dengan senang hati kunanti setiap koreksi ^_^

Jumat, 18 Oktober 2013

Akhlak Qurani



 
Suatu sore, seorang pemuda Indonesia yang tengah berlibur dari aktifitas kuliahnya bergegas menuju sebuah masjid, ia tak ingin tertinggal shalat jama’ah.

Selepas shalat, ia berbincang ringan dengan pengurus masjid itu, diungkapkan keinginannya untuk bisa mengisi waktu luang dengan menuntut ilmu keislaman yang kelak akan menjadi bekalnya berdakwah di tanah air.

Pengurus masjid itu kemudian memeperkenalkannya dengan seseorang yang juga adalah aktifis dakwah. Usai perkenalan, mereka sepakat untuk datang ke sebuah desa yang insyaAllah kondusif untuk belajar.

Dalam perjalanan dengan mobil mereka berhenti untuk sekedar membeli minum dan beberapa ikan ukuran besar yang nanti akan dimasak untuk makan malam. Pemuda Indonesia itu mengangsurkan beberapa lembar uang pada penjualnya, tapi sang penjual menggeleng, tersenyum sambil memandang sang aktifis “Biarkan kami memuliakan tamu yang hendak datang untuk menunut ilmu.”, pemuda itu tersenyum, ia masih sungkan menerima begitu banyak belanjaan tanpa mebayarnya sepeser pun.

Perjalanan kembali berlanjut, ia masih heran tapi diliputi kekaguman. Sampai di desa yang dimaksud, sang aktifis memparlihatkan beberapa tempat usaha penduduk sekitar, pabrik tenun, bengkel, industri makanan dan lainnya, kemudian mereka beristirahat di sebuah rumah, seseorang dengan segera meberinya pakaian bersih, dan ia kemudian membawa pergi pakaian kotor milik sang pemuda.

Tak berapa lama makan malam telah siap, pemuda Indonesia itu keluar kamar dan mendapati belasan orang telah duduk melingkar menyambutnya, ia kemudian duduk, dihadapannya sebuah piring dengan potongan ikan telah tersaji, ia meraih piring itu dan seseorang di sebelahnya dengan cepat mengambil priringnya, menggantinya dengan piring lain berisi potongan ikan yang telah dibersihkan duri-durinya, kemudian beberapa orang mendekatinya, mereka hendak menyuapi pemuda itu, ia canggung sekali sampai kemudian mereka berkata “Kami melakukan ini untuk memuliakan tamu kami.” MaasyaAllaah...

Subuh datang, pakaian kotornya telah bersih dan wangi, terlipat rapi di sebelah ranjangnya,rasa herannya kian bertumpuk. Ia bersiap dan kemudian menuju masjid yang telah penuh sesak oleh para laki-laki yang hendak shalat dan mengikuti kajian hingga isya nanti .

Kajian pertama hingga jelang dzuhur itu penuh kebahagiaan, sang ustadz dengan sangat piawai menceritakan segala keindahan surga, sangat detail sehingga jama’ah seakan bisa melihat dan merasakannya, lengkung-lengkung senyum tergambar jelas, semangat mereka terpancar dihiasi optimisme untuk meraihnya.

Setelah shalat, kajian itu berlanjut, haru, banyak tangis tersedu hingga yang mengguncang bahu, hingga isaknya terdengar sangat memilukan, dari kejauhan mereka seakan kawanan lebah yang terganggu, berdengung menakutkan, kali itu, neraka dengan segala azabnya digambarkan begitu nyata, membuat mereka seakan tengah digiring masuk kedalamnya. Hari itu berakhir dengan uraian air mata yang tak kering hingga jelang subuh, para lelaki melanjutkan ‘itikaf sambil membaca Al-Quran.

Esok paginya, 22 pemuda terbagi menjadi dua kelompok, mereka akan berolah raga sambil bermain bola, pemuda Indonesia pun turut serta. Beberapa menit permainan dimulai, pemuda Indonesia itu berhasil membobol gawang lawan, ekspresi kemengannya urung ia perlihatkan karena sedetik kemudian setelah ia mencetak gol, lawan-lawannya berhamburan, memeluk tiap anggota tim pemenang sambil meneriakkan takbir berkali-kali, mereka bahagia sekali ‘saudaranya’ unggul.
Berkali-kali saat bola masuk gawang mereka melakukan hal yang sama : memeluk para pemenang dan meneriakkan takbir dengan senyum yang bahagia. Aneh.

Hingga masa liburnya berakhir, tak ada lagi tumpukan rasa heran, yang ada hanyalah kekaguman atas akhlak yang luarbiasa indah dari penduduk desa yang menerimanya sebagai thalib al-ilmi, sesuatu pelajaran amat berharga yang jauh lebih menghujam dibanding sekedar teori.

Pemuda Indonesia itu kini tahu, bahwa selama ini dia berada di desa yang memiliki budaya mengamalkan Al-Quran  yang mayoritas penduduknya adalah hafidz, bahkan pabrik-pabrik dan bengkel yang kemarin ia lihat ternyata dinamai dari kosakata Al-Quran. Subhanallaah...


Mengenang ukhuwah ayah di Negeri Kinanah
16-10-13  00:52

Sabtu, 12 Oktober 2013

Hamba


KuasaNya kian cemerlang,
bagi mereka yang tak pernah sungkan,
menyungkur pada tanah-tanah, meski becek.

Bergeraklah, hingga puncak itu takluk pada ikhiar dan do'a.
Tuangkanlah lezat iman itu pada tanah yang dahaga,
tanah yang rindu pada wajah-wajah para hamba :
telah tercukupilah segalanya dalam lembar-lembar terjaga,
maka kami hanyalah kerendahan dihadapanNya.




Bahwa buah kerjakeras, selalu berbanding lurus dengan penghambaanmu. Buktikan! 

Kamis, 10 Oktober 2013

Bandung Abdi

Akhir-akhir ini bapak yang setia mengantar-jemput anaknya tak lagi terlihat. Biasanya jam 07.00 bahkan jam 09.00 beliau sudah sampai di sekolah.

Istrinya bapak tadi : Iya, sekarang bapak yang PNS sibuk banget, semenjak pak Ridwan Kamil jadi walikota, rieut kerjaan numpuk katanya, kebanyakan program, belum lagi kalo datang dan pulang itu harus on time, si bapak sampe minta saya ngedoain biar dia sehat, kuat kerjanya.

Yang mendengarkan : (senyum-senyum) , (berbisik) Alhamdulillaah...

Semoga atasan dan para pendukungnya ridha, ikhlas, dan semangat yaaa ^^...
sing janten amal sholeh ...



Sabtu, 05 Oktober 2013

Santri Avaliable :D




Teh Eti  : Kata J*l*l, anak-anak tuh pada ngincer santri MAQDIS.
Lih        : Masa?
Teh Eti  : Belum pada tau aja :D
Lih        : Ho-oh

Semoga kita lebih baik dari apa yang mereka sangkakan ya jeeeng :)


Galaunya si Aku



Di SMA, sahabat-sahabatku selalu bilang,
“Kayaknya, Lilih deh yang bakal nikah duluan.”
Pasalnya, aku ini hobi banget cerita, sampe menggebu-gebu, lebih-lebih kalo cerita soal pernikahan, maklum, si aku emang doyan banget baca buku-bukunya ustadz Salim A. Fillah sejak pake seragam putih abu.

“Aku pengen nikah sebelum usiaku kepalanya dua.”,
 “Aku pengen jadi asabiqunal awwalun kalo nikah nanti.”
Heboh, tanpa diminta, dengan senang hati, aku cerita sendiri, sahabat-sahabatku di DKM senyum-senyum.

Maka, sekitar tujuh tahun yang lalu, benih-benih pengen nikah yang kutanam dan kupupuk dengan aneka bacaan plus seminar-seminar pendukungnya kini kokoh menjulang dan rimbun, menghasilkan buahnya yang ranum : makin pengen nikah, hihihi.

Sampai kemudian, perdananya piala bergilir akibat pernikahan kader-kader DKM SMA bukan milikku, tapi milik sahabatku yang luarbiasa pendiam, yang cuma senyum-senyum kalo aku lagi menggebu.
Misi gagal.

Satu-satu, tahun-tahun berikutnya paila itu bergilir, melenggang dihadapanku tanpa mau kusentuh.

Maka, sekitar tujuh tahun yang lalu, benih-benih nikah yang kutanam dan kupupuk dengan menjadi penonton aneka walimah plus foto-foto pra pre wedding sahabat-sahabatku, kini kokoh menjulang dan rimbun, menghasilkan buahnya yang ranum : pengeeen.
Pengen kayak mereka yang punya walimah,
Pengen ngaplod foto romantis-romantisan kayak mereka, tapi aku tahu banget, ITU GAK BOLEH !

Sampai kemudian, usiaku ogah-ogahan naik ke angka perempat abad.

Satu-satu lelaki datang dalam hidupku, tak sampai bulan prosesnya selesai.
Kini lebih dari jumlah jari tanganmu, jumlah lelaki yang datang padaku.

Si aku banyak maunya siiih...

"Aku ingin ikhwan yang jenggotnya tipis, ga berkumis, aktifis.",
"Aku ingin ikhwan yang jago nulis, puitis, kayak penulis pavoritku.",
"Aku ingin ikhwan yang suaranya bagus, jago nasyid.",
"Yang suka nggambar, suka baca, suka rihlah kayak aku.",
"Yang suaranya bagus, bukan buat nasyid tapi buat tilawah",
"Yang suka nangis..."

Begitulah, seiring berubahnya musim tahun-tahun, ekspektasiku tentang calon suami juga berubah-ubah, meski tak kehilangan sebuah intinya : yang shalih. jiaaah...

Nah gituuu tuh, yang bikin galau bukan tujuh tahunnya, tapi maunya si aku, ingin yang shalih padahal dirinya sendiri belum baik. Bebenah aja dulu, soal ekspektasi, biar Allah yang me-nyata-kan dengan kehendakNya yang pastiii TERBAIK.

Setuju!



06-10-13, jam satu lewat sembilan detik.
Rabb... hilangkan gelisah, lelah, dan 
prasangka yang tak  layak untukMu.
Kami ridha  ya Rabb...      


Minggu, 29 September 2013

Mensyukuri yang Tertangguh




Dulu,
banyak mimpi yang ingin kugapai, menulisnya hingga bersaf-saf panjang, membacanya setiap kali mata ini letih menunggu.

...

Aku ingin menyebrangi gerbang Institut Terbaik di Bandung itu dengan gelar sebagai ‘penghuninya’.

Aku ingin seperti penulis favoritku, menjadi pengkarya perusahaan telekomunikasi yang masyhur di negeri ini.

Aku ingin jadi juragan rumah makan yang cabangnya terentang-rentang jauh, mendatangkan aliran uang amat banyak yang akan kugunakan membangun mimpiku yang lain : Sekolah dengan kurikulumku sendiri.

...

Meski kini,
Nyatanya aku,

Diploma dua tak bergelar yang jika kusebut nama tempatku belajar, setiap orang akan bertanya dua kali “Maaf, apa tadi nama kampusnya? Itu dimana ya?”

Pekerjaanku, adalah hal yang dulu tak sama sekali terdaftar dalam mimpiku.

Allah Maha Lembut, Ia tahu segala mimpiku, ia menggenggamnya dan kemudian menyimpannya dengan sangat rapi,

Lalu,
Ia menghidangkannya, membuatku takjub dan kemudian tersadar...

Dihadapanku kini, bentuk-bentukku dalam mimpi berbaris manis, mereka tersenyum, mendengarkanku dengan seksama.

...

Syukurilah jika mimpi-mimpimu tertangguh sekian lama, mungkin, jika Allah membayarnya terlampau cepat, kau tak akan menjadi kini, lebih baik dari apa citamu dulu...



Porsi besar mimpi-mimpiku itu, terbayar sudah.
Kau tahu dengan apa? AL-QURAN ^^  


Saat mimpimu hiruk pikuk dalam fikiranmu,

Tuliskan saja,

Bergerak saja,

Meski gerakmu bertolak arah dari mimpimu,

Bergerak saja,

Biarlah menjauh,

Hingga ia mulai hilang,

Hingga kau merasa nyaris putus asa,

Bergerak saja,

Hingga sepertinya kau lupakan mimpi itu,

Teruslah bergerak,

Seperti ibunda kita Hajar,

Bergeraklah,

Meski hanya berputar-putar ditempat yang sama,

Meski hanya berpuatar-putar ditempat tanpa hasrat,

Bergerak saja,

Hingga mimpimu semakin pekat dan tak bisa kau lihat apapun,

Bergerak saja,

Kelak saat jenih, hatimulah yang menemukan cahaya,

Pekatnya mimpi, bukan berarti Ia lupa,

Karena  Allah selalu melihat usahamu...

Selasa, 24 September 2013

Ukuran


Tahukah, betapa aku takut saat kau hadir tepat di hadapanku.
Fisikmu, finansialmu, keluargamu, bahkan agamamu terlampau baik untukku, meski berkali kau samarkan keshalihan itu...

Ukuran kita tak sama memang, kau yang hidup dalam lingkungan ‘kebebasan’ tentu memiliki ukurannya sendiri , mungkin kau tak menyadarinya, tapi nilaiku adalah : Kau orang yang shalih, jauh melebihiku.

Maka mengenalmu adalah berarti pukulan keras bertubi-tubi bagiku.

Utamanya fisik, finansial dan keluargamu, itulah ketakutanku, aku tak ingin niatku bengkok karenanya, aku tak ingin menukar keberkahan dengan kemaha murahannya dunia, meski ia begitu memikat, aku gugup,tak kumiliki sikap terbaik menghadapinya kecuali dengan menangis,menyungkur berlama-lama, memohon agar Sang Pemilik Segala mengokohkanku yang fakir.

Maha Benar Allah, ia tak pernah sedikitpun melebihi ukuran kesanggupanku.

Aku tahu, sepenuh sadarku, bahwa bukan kau yang tak pantas, melainkan aku. Terimakasih telah membuatku banyak belajar...


Minggu, 22 September 2013

Cinta...



Cinta...kupinta ia, selalu, semoga hanya karenaNya...

...

Ia terkejut, betapa sakitnya ternyata tak menyisakan banyak ruang bagi usia, hanya tersisa 60 hari detak kehidupannya...

Ah, betapa waktu kian membuatnya ringkih, perempat hidupnya hilang bersama tangis panjang, dan keputusannya bulat : "Pergilah, jangan pernah dekatiku lagi.", kasar sekali ia membentak lelaki itu, ya, lelaki yang dalam hitungan minggu seharusnya menjadi suaminya.

Lelaki itu pergi, memendam rasa yang iapun tak tahu...Berulang, ia mengadu dalam penghambaannya, logikanya nyalang, tapi cinta yang ia miliki menggerus lembut kata akalnya, ia bangkit, mendatangi wanitanya yang jerih di pembaringan menanti separuh usianya. 

"Menikahlah denganku." pinta lelaki itu bersambut tangis rindu yang takut, wanita itu tak tega, menjadi kebahagiaan sesaat sebelum kesedihan yang panjang datang, tapi ia terlanjur mencintai lelaki itu.

Dalam kehidupan baru keduanya, lelaki lembut itu amat mengasihi isterinya, tak ada sedikitpun kesedihan dalam raut wajah keduanya, mereka bahagia.

Hingga...

Nafasnya berat, ia bahkan bisa menghitungnya, di depannya, sang suami yang setia menemani, memberikannya senyum terbaik, tak ada kata, hanya terdengar hela nafas wanita itu, dan kemudian ruh itu pergi...

...

Akhir potongan flm itu, sang lelaki menangis sambil memeluk erat jasad isterinya.

"Jika anda lihat lelaki seperti ini, anda bahkan akan menjadikan harta, pangkat, rumah, mobil dan lainnya menjadi sangat murahan harganya."  _ Mario Teguh, Golden Ways_

MaasyaAllaah...

Kamis, 19 September 2013

Gairah



Pernahkah?
Suatu waktu, saat kemenangan itu nyata sekali, kau bahkan tak bergairah menyapanya.

Saat itu, yang kau inginkan hanya satu : Allah.

Meski dengan bangga, namamu menggema,
Meski tepuk tangan riuh bergemuruh,
Meski kilat-kilat lensa berebut menyilaukan mata,
Meski jabat tangan tak henti terayuh,

Yang lirih dari bibirmu hanyalah "Aku malu!"
Dan saat itu bening pun mengkaca pandanganmu.
Duhai masa, cepatlah berlalu...
Yang ku ingin kini, hanyalah terbenam,
MerayuNya dalam sujud panjang.


Senin, 16 September 2013

Rindu




Ada banyak gelombang yang meriak rasa,
ada samudera tanpa batas pandangan mata,
ada jernih yang menuntas dahaga,
kemudian ...
Ada biru yang mengait putih bercahaya,
ada banyak warna yang melukis dirinya sendiri di angkasa,
ada lingkar hari yang meredup jingga,
kemudian ...
Ada pekat menggemintang atapnya,
ada rembulan yang terkalah indahnya,  
ada goresan meteor yang perkasa,
Di bumi...
ada miyar jiwa yang rana rindunya.


Hanya sebatas kata yang tak secuil pun sastra menghiasnya, terlalu banyak rasa tak terkata saat sosok itu tergambar dalam benak setiap jiwa yang merindunya, hingga tangis deras mengguncang dada, hingga akal tercerabut dalam raga, mereka rana dalam rindunya.

Tak kan pernah kau temukan lagi...

Rosulullaah ...
Bahkan ribuan tahun kepergianmu tak sedikitpun membuat para perindumu bosan.
Seperti katamu, kami kan bersama yang kami cintai di akhirat kelak, maka kami mencintaimu, selalu...

Allaahumma shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa ahlih wa ashaabih...

Menyeperti Yusuf


Subhaanallaah...

Hari ini, kutemui sosok seperti Yusuf _‘alaihissalaam...
Seorang pemuda yang insyaAllaah mendapat satu tiket naungan dihari tanpa naungan selain naunganNya.

Jika dulu hanya satu imroatul’aziiz, dizamannya kini ada banyak sekali.

...

Pekerjaannya sebagai penggiat tambang adalah pekerjaan yang sulit karena waktu untuk perusahaan jauh lebih banyak ketimbang waktu pribadinya, “Pekerjaan paling tidak manusiawi.”, candanya.

Sering kali ia berpindah dari satu pulau ke pulau lain, bahkan dari satu samudera ke samudera yang lain untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya.

Di tengah tekanan pekerjaan dan minimnya interaksi keluarga, beberapa perusahaan dengan terang-terangan membuka kesempatan bermaksiat dengan menyelundupkan wanita-wanita pezina sebagai hiburan gratis para karyawannya! Na’udzubillaah...

Dan hari ini, sesosok pemuda membuatku terkagum. Dalam kondisi pekerjaannya itu, ialah mungkin satu-satunya yang kelelahan sekaligus jijik melihat rekan-rekannya yang berlaku binatang.

“Seandainya dunia bisa kucampakkan zahirnya, tentu kucampakkan ia.”, lirihnya, “Aku ingin membulatkan tekadku untuk menjaga diri dengan menikah, merasai ketentraman yang Allah janjikan padanya.”

Ah, betapa suksesnya ia membuatku babakbelur.
Setiap kalimat yang terucap begitu lantang, sedikit terdengar ‘garang’ bagiku yang selama ini berada di tempat yang ‘nyaman’ untuk imanku.

...

Ah, darimu, kutahu kini, bahwa mungkin, justru imankulah yang jauh tertinggal darimu.
Jazaakallaah...



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ : إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ تَعَالَى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرِجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "


Dari Abi Hurairah radhiyaAllaahu'anhu dari Nabi Sallallaahu'alaihi wa sallam berkata :
"Tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari yang tiada naungan selain naunganNya :

1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang hidupnya selalu beribadah kepada Allah ta'ala
3. Pemuda yang hatinya terikat pada masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karenaNya
5. Laki-laki yang diajak (berbuat zina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan kemudian      
    berkata : "Sesungguhnya aku takut kepada Allah"
6. Pemuda yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang 
   diinfakkan tangan kanannya.
7. Pemuda yang menangis saat mengingat Allah dalam kesendiriannya 

Minggu, 15 September 2013

Sepi



Ada sunyi...
Saat itu pula,
Khauf mensejajari raja'.

Saat keributan bukan milikku,
Ada syukur mengharu biru.

Meski hijab masa depan terlalu pekat,
dan kadang mengerikan,
Aku tahu, Ia menjagaku, selalu...



 

Selasa, 10 September 2013

جند الله


بسم الله الرحمن الرحيم

ابني صالح, جند الله في الأرض

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

.أشكر الله على نعم عظيمة, و على حضرك في حياتي

يا بني, هل عرفت لماذا سمّيتك باسم ’عمر’ ؟

لأنّني أريد شخصيتك كما شخصية عمر ابن الخطاب


,الذي أقصّ لك كلّ الليل

,هو حبيب الرسول صلى الله عليه و سلّم, حافظ القران

خليفة عادل قوي في الحقّ, تواضع و يخش الله

يا بني, اجتهد في حفظ القران و أدعوك  في كلّ ليالى


السلام عليكم و رحمة الله و بركاته



Tugas  Al-Imarat, surat ga resmi....Yang mau koreksi, dengan senang hati ^^

Perempuan Itu ...




Perempuan itu, seneng banget kalo dibilang cantik, hanya sedikit dari mahkluk halus ini yang ‘cuek bebek’ kalo denger kata ‘cantik’ menimpa dirinya.

Makanya, perempuan itu, seneng banget dandan, mulai dari ujung jari sampe ujung rambut pasti perhatian, ga beda antara yang punya banyak kain sama yang kurang banyak kainnya, mereka mirip soal yang satu ini. Lagi, hanya sedikit dari mahkluk halus ini yang ‘cuek bebek’ soal tampilan zahir mereka.

Intinya, perempuan itu, seneng banget jadi pusat perhatian yang ‘baik’.

Hayo ngaku ?!

Nah, dari ‘kebutuhan’ perempuan sendiri  inilah akhirnya banyak yang kesengsem pengen ikut aneka kontes, biar ‘kebutuhan’nya tersalurkan dan dapat timbal balik berupa :
1.       Dibilang cantik
2.       Dibilang pinter
3.       Dibilang berprestasi
4.       De el el yang merupakan pandangan manusia.

Ditambah lagi, kontes-kontesnya banyak yang mensponsori bahkan sampe tayang ke luar negeri, waaah, asiiiik jadi pusat perhatian!

Gituuu, tuuuh perempuan, ga semuanya sih, contohnya aku yang ga minat ikut-ikutan, selain karena pasti tereliminasi ditahap awal seleksi, aku punya cara pandang lain tentang ‘kebutuhan’ ini.

Aku sesekali nonton kontesnya, sesekali mengunggulkan salahsatu dari mereka, sesekali berdecak kagum dengan detil-detil beauty, brain, behavior mereka, dan sesekali juga ‘iri’.

Satu point penting lagi, beberapa perempuan seneng banget bikin perempuan lain ‘iri’, jadi ga heran lagi kan, kenapa kalo arisan atau pengajian, ibu-ibu maksimal sekali berdandan.

Hey, kau perempuan! Seperti itu jugakah kau? Aku? Karena ini tulisanku, maka inilah juga rasaku sebagai perempuan, tak menyangkal, aku butuh pujian, aku butuh perhatian dan terkadang merasai kepuasan saat kawanku merengek “iiih, bajunya lucuuu, beli dimana?”

Mungkin itu fitrah kita, sista.

Dan pada banyak ‘kebutuhan’ kita, Allah telah memberi jalan terbaik meraihnya.

Berdandanlah secantik yang kau mau, pakailah pakain terbaik yang membuat segala indahmu kian terpancar, sempurnakan penampilanmu dengan parfum terwangi yang kau punya, di depan suamimu, ya, hanya dihadapannya, dan beri tahu ia agar tak malu memujimu.

Dan lagi, jika kau sepertiku yang belum menemukan lelaki bernama suami, sedikit yang ku tahu, saat ‘kebutuhan’ itu kian menumpuk dan kesempatan memenuhinya terbuka lebar dengan sponsor bergengsi dan manusia yang berlomba meraihnya, tanyakan satu hal, “Ridha kah Allah?” dan saat itu pula nurani kita menjawabnya lantang “TIDAK, meski separuh manusia di bumi ini membenarkan, bukan ini yang Allah ingin darimu!” dan kita kembali bertanya, menuntut bahkan “Bilakah jalan Allah itu cepat datang?”.

Pasti ada saat kita seperti itu. Tak mudah memang, mempertahankan iman di saat segala fasilitas duniawi terhidang demi mengiris sedikit iman kita.

*Itu iman, iman yang gelisah.

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan aneka ujian sampai-sampai berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’” (Q.s Al-Baqarah [2] : 214).

Dan saat hal itu terjadi, kita hanya perlu memejamkan mata, meyakinkan keberatan hati kita dengan berkata “Jika ini perintah Ilahi, Dia tidak akan pernah menya-nyiakan iman dan amal kita.”, kemudian kembali melangkah di jalan yang diridhaiNya.

Iman adalah mata yang terbuka,
Mendahului datangnya cahaya
Tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
Dan rasakan hangatnya keajaiban


*inspiring book  : Dalam Dekapan Ukhuwah, gurunda Salim A. Fillah 

Minggu, 08 September 2013

Kamis, 22 Agustus 2013

Masjidku Super Menyenangkan Part1



Mataku tak bisa terpejam, shalatku penuh ide, maasyaAllaah... Jika semangatku sedang memuncak hampir pasti tidurku berantakan...Aaah, masjid, kali ini ialah sumber insomnia ku.

Dulu, saat jiwa ragaku berpetualang di zaman Sekolah Dasar, masjid adalah tempat yang paling menyenangkan. Libur sekolah sering kali kuhabiskan dengan ‘nyantri kilat’ di beberapa masjid, senang, senang, senang, itulah citra masjidku dulu.

Masjid Daarussalaam adalah masjid pertamaku mereguk lezatnya ilmu, lokasinya berada di tengah padat rumah-rumah yang tak beraturan karena tak ada bisnis properti disana,  Margacinta nama daerahnya.

Kawan, masjid pertamaku menyenangkan sekali, niatku dulu adalah bertemu orang-orang yang menyenangkan, tak sedikitpun bayanganku untuk bisa membaca Al-Quran saat itu. Ikhwan pertamaku (udah baca, kan?) saat itu masih SMA, bersama para tetangga dan beberapa teman satu sekolahnya, ba’da magrib  mereka memadati masjidku, menjadi pusat lingkaran besar–besar yang riuh rendah mengeja setiap huruf keriting yang aneh, tulisan arab dalam buku hitam bermerek IQRA.

Setiap sekali seminggu, kami para bocah berbaris-baris rapi berhimpit-himpit karena tak ingin si setan mengisi barisan. Pelajaran shalat yang juga menyenangkan, imam pura-pura yang memimpin kami adalah pergiliran, maka kami sekuat tenaga menghafal bacaannya agar tak malu saat menjadi imam pura-pura itu.  Para pengajar, melangkah pendek-pendek, mengitari posisi kami yang sedang duduk diantara dua sujud dan tahiyat akhir yang susah sekali- kenapa sih kakinya harus dilipet-lipet?

Sekali setiap minggu pula, pelajaran khusus bertema : Games mengocok-ngocok perut kami. Berbaris berhadapan, saling suwit dan lempar pertanyaan yang berakhir hukuman request dari kelompok pemenang :  praktek jadi mongki, baca hafalan surat atau do’a, atau berdiri mematung tanpa dihiraukan siapapun, tak mengerjakan apa-apa. Dan kadang kami tertawa sekaligus malu luarbiasa jika kalah dalam perang pertanyaan itu.

Tiba Ramadhan, masjidku makin seru dengan program sanlat. Ba’da subuh kami diwajibkan mendengar ceramah dengan mata terkantuk-kantuk, menuliskan poin-poinnya dan berebut meminta tandatangan bapak penceramah, kami tak peduli materi ceramahnya, yang penting lembar-lembar tugas itu penuh terisi meski dengan mencontek :D.
Selesai ashar berjama’ah kami kembali berkumpul, mengaji dan mengikuti berbagai perlombaan yang telah dirancang kakak-kakak pengajar : lomba MTQ, hafalan surat, Adzan, puisi, bikin kartu lebaran, dan nasyid.

Team nasyidku, Firdaus, terdiri dari tiga personel ikhwan dan dua akhwat yang tega sekali memukul-mukul bulatan kayu berbalut kulit, aku ditunjuk sebagai vokalis karena tak ada alasan lain : akulah satu-satunya yang hafal banyak lagu nasyid, bukan karena suaraku yang bagus, kawan :D.

Adzan magrib, kami sholat berjama’ah. Usai shalat, kami mengumpulkan sandal-sandal dalam lingkaran kapur yang dijaga seorang ‘kucing’ dan kami berusaha merebut sandal-sandal itu, sampai saat ini aku tak tahu nama permainan itu.

Shalat isya, kami kembali berjama’ah, berlanjut tarawih dua puluh tiga raka’at yang sering tak lengkap karena kami kelelahan dan tertidur. Saat bangun untuk sahur, aku sudah ada di rumah, tak tahu apa yang terjadi saat tarawih, ternyata guruku, teh Yati menggendongku sampai ke rumah :D.

Subuh kembali, seperti biasa, kami terkantuk-kantuk menyimak kuliah subuh itu, tapi kami tak sabar menanti kejutan-kejutan lain dalam perlombaan nanti sore.

Terbayangkah, kawan? Maka setiap hari, Ramadhan kami menjadi sangat berarti, tak ada kesia-siaan karena kami sibuk berlatih, menghafal, dan saling bersaing untuk bisa jadi yang terbaik.

Akhir-akhir Ramadhan kami, para juara berdebar-debar karena hadiah berbungkus kertas cokelat banyak sekali. Setiap kali sang juara perlombaan maju untuk mendapat hadiah, kami bersuit-suit, mengacung-ngacungkan tangan sambil bertakbir. Selain hadiah, sertifikat penghargaan pun menjadi kenang-kenangan tak terlupakan hingga saat ini, maka buatku, sertifikat itu menumpuk hingga kini karena akulah yang paling bernafsu untuk mengikuti hampir setiap perlombaan :D. Dan kawan, jangan fikirkan biaya kegiatan itu, kami tak tahu menahu, semuanya gratis.

Begitulah, masjidku menjadi tempat yang paling dirindukan setiap hari, bahkan saat hujan deras mengguyur, kami rela berbasah-basah untuk sampai di tempat menyenangkan itu. Kawan, mungkin itulah makna ‘makmur’ yang sebenarnya, para pemuda yang mencintai masjid sesungguhnya sedang dicetak dalam proses ‘menyenangkan’ itu.  Maka menurutku _KOREKSI AKU JIKA SALAH_, tak salah jika kau ‘bersenang-senang’ bersama murid-muridmu di masjid, buatlah proses belajar mengenal Allah itu menyenangkan, agar masjid kita kembali ramai dan dicintai, agar kesan indah tentang rumah Allah itu terpatri dalam, agar dimanapun kita berada, kita kan selalu ingin menjadi bagian terbaik yang mendukung dakwah di rumahNya.        

Rabu, 21 Agustus 2013

Selapis Kulit Tempe


Percayakah kau jika kukatakan bahwa kulit kita mirip dengan sekerat tempe? Konyol, mungkin itu jawabanmu.

Aku pun masih sering tersenyum getir jika otakku tiba-tiba memutar kembali kilasan waktu, tentang kulit kita...

Seorang ibu, fisiknya terlihat sehat, sangat sehat bahkan, di dekatnya berkumpul satu dua orang sahabatku, ia bercerita sambil sesekali menunjukkan titik-titik tertentu di lengannya. Tahukah apa yang sedang asyik diceritakannya? Sehari sebelum cerita itu tersiar, sang ibu telah melakukan operasi pengangkatan jamur yang tumbuh disekitar lengannya, aku yang mendengarkan di pojok ruangan benar-benar takut, berkali-kali istighfarku lirih. Sang ibu yang juga penderita Systemic Lupus Erithemathosus telah mengkonsumsi obat-obatan dosis tinggi untuk menahan laju liar penyakitnya, bertahun, dan kondisi tubuhnya semakin baik, dosis tinggi itu kemudian direkomendasikan oleh dokter agar diturunkan kadarnya, tindakan yang benar, hanya saja imun yang telah lama teradaptasi dengan obat pertamanya sedikit 'kaget', ia kembali beradaptasi dengan obat  baru, akibatnya  jamur-jamur tumbuh subur  di kulit sang ibu, maasyaAllaah...

Apa pendapatmu kawan? Mungkin kau tak akan percaya, tapi aku yang juga sempat berkait erat dengan penyakit itu enam tahun lalu pernah mencicip kelupas eptitel yang juga aneh, seperti tanda-tanda terbakar, pecah dan tentusaja kasar, bahkan seseorang pernah dengan tega menyebut kulitku seperti corak kain batik, ah, ujian yang menyenangkan... Menyenangkan karena dengan ujian itu aku tahu banyak hal tentang diriku sendiri, tentang arti ‘abdullah’, ‘hamba Allah’ yang tak sedikitpun daya dan upaya dimiliki kecuali atas izinNya, tentang makna syukur yang teramat sering luput dan baru terasa begitu nikmat saat tercerabut, syukur, sikap yang benar-benar menjadi identitas menonjol dalam diri seorang muslim di samping sabar yang juga tak kalah berat, maka bagi mereka yang telah mendapat keduanya, tentulah sangat beruntung.

Menjadi hamba berarti menjadi sosok yang dengan mendengar ia taat terhadap tuhannya, tak banyak bicara karena tsiqah, percaya pada kerjaNya yang pasti terbaik, yang pasti tak khianat akan janji, yang pasti meberi ujian sesuai takar mampu hambanya, tak sedikitpun lebih. Maka dengan itu, mereka terlihat tak pernah bersedih meski ujian begitu berat (menurut kita yang melihat), dan aku malu...

Rasa syukur yang menjelma ikhtiar sepenuh rasa mampu meski amat terbatas (lagi-lagi menurut kita yang melihat), rasa syukur yang dengannya setipis apapun kesempatan hidup menjadi benar-benar berharga, teramat berharga karena tiap detik adalah kesempatan membayar surga meski dengan kerja sederhana yang payah, Karena mereka yakin setiap kebaikan sebiji dzarrah pasti berbalas. Dan aku malu...


Aku malu karena tak mampu seperti mereka meski ujianku tak serumit ujian mereka,
Aku malu karena terlalu banyak berkeluh,
Aku malu karena tsiqahku amat payah pada nyeri yang tak seberapa,
Aku malu karena usahaku buntu oleh alasan yang beraneka rupa,
Aku malu karena malasku seringkali menenggelam karya,
Aku benci orang-orang yang bermaksiat meski nyatanya tak ada beda diriku dengan mereka.

Selapis kulit kawan, yang mungkin jarang kita (aku khususnya) tafakuri, adalah nikmat yang luar biasa... Kelak, jadilah ia saksi kita yang mengantar kita ke surga, tergantung amalmu, memanen ridha  tuhanmu ataukah tidak.


Dan (ingatlah) pada hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke neraka, lalu mereka dipisah-pisahkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka “ Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” (Kulit) mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepadaNya kamu dikembalikan.” 
_Fusshilat : 19-21    


Selasa, 30 Juli 2013

Inilah (Jalanan) Indonesia


Matahari selalu bersemangat sekali mengalirkan butir-butir besar keringat, ia berkolaborasi dengan cawan raksasa bernama laut yang meniupkan nafasnya yang panas, jalan-jalan sesak, berbagai jenis kendaraan tumpah ruah dan bising. Bagi mereka yang menanti kendaraan umum favorit busway, bersiaplah untuk berdaki-daki, berbedak-bedak debu, berpegal-pegal, dan tentusaja berdesakan. Itu baru terminalnya kawan, saat kakimu meloncat masuk pintu gerbangnya yang 'canggih' berbagai aroma menguar, mengusik saraf-saraf hidung yang sedari tadi sibuk mengolah gumpal-gumpal kecil kehitaman yang kau tahu disebut apa, dan jika kau sepertiku, berpostur tinggi diantara yang jauuuh lebih tinggi, bersiaplah untuk terjepit sepanjang perjalananmu, ALHAMDULILLAAH... suasana kritis itu tak diperparah asap rokok menyebalkan.

Begitulah, di Indonesia, seburuk apapun kondisinya, orang-orangnya yang ramah tak pernah kehilangan senyum termanisnya.

Dalam kondisi jalanan ibu kotanya yang tentu saja menjadi citra negara, orang-orang di sini sering mendapat kejutan yang menyenangkan.

Saat penat dan lelah meradang seusai menjemput rizki ataupun ilmu, di dalam bus yang minim oksigen tiba-tiba terasa sejuk karena setiap kali pak supir menginjak pedal gas, mulutnya bergumam pelan : bismillaah... Ah, jikapun izrail menyapa, ada alasan untuk bisa husnul khatimah di sini : sedang bersama orang shalih, insyaAllaah.

Dan saat kepala hingga punggung kita merunduk melewati pintu angkutan kota yang sepi penumpang, tak ada sedikitpun keluh dari sang nahkoda. Satu kalimat yang setia mengiringi setiap kata dalam ceritanya yang juga menyejukkan : alhamdulillaah, masih bisa mencukupi untuk setoran, alhamdulillaah masih bisa memberi makan anak dan istri, alhamdulillaah... alhamdulillaah...

Lalu saat mobil milik bersama itu berhenti, menurunkan penumpang yang senang sekali berhaluan 'kiri', saat nominal besar uang yang terangsur mereceh berbarengan langkah kaki, sang nahkoda menjerit : "Neeeng, kembaliannya kurang nih!". Dan kita kembali tersenyum... MaasyaAllaah...

Lagi, saat kita berjalan kaki di tengah hiruk pikuk kendaraan tanpa kejelasan jalur menyebrang, senyum kita lagi-lagi mengembang sempurna, manis sekali, tersenyum sambil terangguk-angguk pada pengendara baik hati yang selain memperlambat laju, ia juga melambai-lambaikan tangan, meng-kode kendaraan belakang agar juga melambat, dan kita melenggang tanpa beban. Subhanallaah...Senang ya, jadi orang Indonesia ^_^.

Selalu ada celah besar untuk tersenyum dalam genting yang luarbiasa jika kita mau menghargai setitik sinyal kebaikan.

Dan dengarlah kawan, dengarkan dengan tenang agar kamu mendapat rahmat #Hafidz Indonesia RCTI :

"Inna ma'a al-'usri yusron, fa inna ma'a al-'usri yusron"

Al-'usri yang berarti kesulitan, ia terangkai bersama alif lam yang menandakan keKHUSUSan, mungkin seperti the dalam bahasa Inggris. Maka Al-'usri dengan mudah kita fahami adalah : KESULITAN ITU (1)

Yusron tak berangkai bersama alif lam, maka ia berarti keUMUMan yang dengan mudah kita fahami : KEMUDAHAN YANG BANYAAAK

Dan lihatlah, Allah Yang Maha Menepati Janji mengulangnya dua kali : SUNGGUH, BERSAMA SATU KESULITAN ITU ADA BANYAAAK SEKALI KEMUDAHAN.

Maka kulihat negeri ini, banyak sekali penduduknya yang mungkin tak mengerti secara mendalam tentang ayat ini, tapi mereka telah mengamalkan dari sedikit yang telah diketahui itu: husnudzhan pada setiap kejadian yang pasti telah tertulis di lauh al-mahfudz, bahwa tak sedikitpun Allah zalim terhadap hambanya, bahwa kesulitan, pasti sesuai kadar mampu.

Dan aku semakin 'bangga' dengan negeri ini : Sahabatku yang pergi-pulang selalu bersama kemacetan, ia menyelesaikan hafalan 30 juz nya di dalam bis!

MaasyaAllaah...

Inilah Indonesia, ada bayak sekali kemilau indah ternyata... Maukah kau, kawan, bersamaku menjadi bagian kemilau itu? ^_^

Sabtu, 29 Juni 2013

Aku Ingin Tahu Rasanya Rugi



"Aku ingin tau bagaimana rasanya kerugian." serunya. Ya, dari sekian banyak kegiatan bisnisnya ia adalah ahli yang tak pernah kenal istilah rugi.

-----

Dari kemapanan hidup di kampung halamannya yang memang adalah kampung para saudagar, ia berhijrah, meninggalkan kerajaan bisnisnya yang dibangun bertahun lamanya dengan tak membawa apapun selain bekal  ta'at pada Allah dan Rosul.

Di Yatsrib, kota para petani itu, ia dipersaudarakan Rosulullah dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari yang juga kaya. Abdurrahman pernah ditawari Sa'ad untuk memilih kebun yang paling ia sukai dari dua kebun miliknya, bahkan dari dua istri yang ia miliki, dan Abdurrahman hanya tersenyum, berterima kasih dan meminta satu hal : "Tolong tunjukan padaku arah pasar, saudaraku."

Di pasar itu ia kembali memulainya dari nol, dari menjadi kuli angkut barang, kemudian menjadi makelar. Bisnisnya kian berkembang dan menghasilkan uang yang cukup untuk membeli sepetak kios di pasar tersebut, dari kios itulah kerajaan bisnisnya yang kedua kembali dibangun. Berbekal tarbiyah  dari sang guru, Rosulullah SAW, bisnisnya bertahan dari gelombang kelicikan para Yahudi yang memonopoli pasar, ia jujur, tak kenal riba dan tentusaja profesional.

Suatu hari keinginannya untuk merasakan kerugian ia ikhtiarkan. Ia membeli banyak kurma mentah dan menyimpannya di gudang, berharap agar kemudian membusuk dan ia merugi. Rencana Allah, setelah ikhtiar menjemput kerugian itu ia laksanakan, tersebarlah wabah penyakit yang kemudian dicari penawarnya, dan tahukah? penawarnya adalah kurma mentah yang amat jarang berada dipasaran saat itu, maka para pedagang dari berbagai daerah yang mengetahui Abdurrahman Bin 'Auf memilikinya berlomba-lomba untuk bisa membeli kurma tersebut, tawar menawar terjadi bahkan hingga para pedagang tersebut melakukan lelang mandiri, seratus dinar, saya dua ratus, saya tiga ratus, dan Abdurrahman Bin 'Auf hanya bisa geleng-geleng kepala. ^^

Minggu, 09 Juni 2013

Kristal


Menggayut rindu, tapi aku malu...
Pada ia yang menyenangkan sekaligus menyebalkan.
Pada ia yang kutitipkan namaku dalam do'a.

Kenapa kau memilih butir air yang sekilas adalah air mata?
Dalam setiap ucapanmu, ada selaksa tajam yang sering mengirisku,
maka kau seharusnya air yang mengkristal dalam gelap.

PR lagi buat Kang Emil...



Ahad, 9 Juni 2013 aku, tetehku bersama para pedagang kaki lima yang jumlahnya hampir seratus melakukan negoisasi bersama warga Metro atas masalah ‘kesemrawutan’ wilayah tersebut setiap minggu. Hanya satu minggu sekali, itupun tidak mendesak waktu shalat dzuhur, jam 11.00 WIB biasanya kami telah selesai menjaja dagangan.

Kang Emil jadi saksi atas kejadian pagi itu. Diiringi para penjaganya, tetehku yang berada di belakang berteriak pelan- menyadari bahwa ini belumlah menjadi wewenang calon walikota Bandung itu, “Kang, kumaha ieu teh?”

Padahal setiap kali kami berjualan, para pemalak itu rajin sekali mengumpul pajak. Kali ini, seminggu sebelum pasar kaget Metro kembali digelar, warga telah protes dan bersiap memasang atribut bertuliskan “PKL dilarang berjualan” dan para pemalak itu hilang ditelan semarak pedagang kecil yang khawatir akan nasib dagangannya yang telah siap memenuhi pasar jelang lebaran.

Hanya seminggu satu kali, Kang.

Jika kami membuat macet, jalan-jalan pintas Margahayu yang tersebar itu kami rasa cukup, dan bukankah saat itu, saat kami dilarang berjualan pun jalanan tetap macet?

Jika kami membuat kotor, bisakah kita bicara dan membuat solusi cerdas yang menyenangkan semua pihak?

Dan jika pasar dengan rotasi uang 900 juta itu menggiurkan bagi warganya yang juga ingin merasakannya , bisakah kita bersaing dengan adil?

Ya, kami mafhum jika lapak-lapak yang kami gelar terlalu kumuh, teramat mencolok di wilayah mewah yang rata-rata rumahnya tipe 48, tapi bukankah sudah kukatakan, bisakah kita bicara dan membuat solusi menyenangkan? Bukan dengan ‘maraban’ -kata pedagang- aparat yang dengannya buruk sangka kami kian akut : Pada siapa pemerintah ini berpihak? orang-orang kaya kah?

Kang, harapan pedagang kecil (yang benear-benar kecil) sederhana : agar dapur kami tetap mengepul, itu saja, jika harapan untuk mendapati hidup menjadi jauuuuh lebih baik begitu sulit.

Dan aku semakin miris...
Tempat kami bernegoisasi itu sangat dekat, berjarak jalan setapak bagian barat masjid, namun yang ada adalah barisan para ibu yang tak sedikitpun kami dapati simpul senyum menyenangkan dari mereka-  mencegah kerusuhan yang lebih besar mungkin. Bahkan, seorang ibu dengan masker dan kacamata tega mengobrak-ngabrik lapak yang nekad digelar. Ah, jika masjid itu bisa bicara tentu ia akan menangis.

Kang Emil, kami yakin do’a ibu yang tertulis dalam nama anda pasti mustajab.

Jadilah Ridwan penjaga surga yang ramah dan menyolusi semua orang baik agar nyaman, biarlah mereka yang jahat di neraka, terbakar dengan gemeretak gigi menahan amarah pada kenyamanan ahli surga.

Jadilah seperti Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam yang 1400an tahun yang lalu berdo’a : Ya Allaah bangkitkanlah aku bersama orang-orang yang miskin.


Tulisan ini lih buat karena :
 HUSNUDZAN
 dan 
OPTIMIS 
Kang Emil bisa jadi walikota yang baik ^^ 

Selasa, 28 Mei 2013

Perjalanan Genap Din-ku




Dulu aku pernah menjadi saksi sebuah model ta’aruf yang bemula dari dunia maya. Perkenalan itu serius, mengarah ke sebuah pernikahan, terlebih  setelah saling tahu bahwa keduanya adalah ikhwah dalam wadah yang sama. Sejak saat itu, malam-malam al-ukh ditemani telfon dari al-akh, membincang pertanyaan ini itu, sampai pada keinginan al-ukh untuk mendengar lantun tilawah al-akh. Dan aku risih, kutanyakan perihal apa yang mengganjal hatiku pada al-ukh, dengan nada dan ekspresi wajah sedih, ia berkata : “Kami sedang mencoba untuk saling mengenal, jika tidak dengan cara ini, lalu bagaimana bisa?” dan aku hanya terdiam...

Benar, jarak mereka terbentang kota yang berbeda, dan mereka belum pernah bertemu sekalipun... Seperti yang kutahu, bahwa seharusnya perkenalan itu bukan antara orang per orang yang sudah memiliki niat menikah, tapi lebih kepada keluarga dan teman-teman yang tahu pasti kebaikan terlebih keburukan yang sedang ingin kita tahu pribadinya. Tapi tak semua orang mengerti hal ini, banyak sekali kendala jika harus berproses seideal apa yang kusebutkan di atas, terlebih dalam kasus mereka yang baru saja saling mengenal, tak pernah sekalipun bertemu dan kendala keluarga yang masih ‘awam’.

Aku belajar dari peristiwa ini, dan entah kenapa azam agar tak melewati proses ‘komunikasi langsung’ dengan calon pasanganku kelak kian kuat, meski aku amat sadar akan realita yang seringkali tak seideal apa yang diharap. Tapi bukankah do’a adalah pengubah takdir, dari takdir satu ke takdirNya yang lain yang lebih siap kita hadapi?


Rabbi...berkahi pernikahan bahkan saat mula prosesnya, berkah yang membuat hatiku tenang melangkah...

Dan inilah sebagian realita yang ada padaku,

Berkali proses ta’aruf itu kandas, terkadang aku yang menolak, tapi lebih sering aku yang ditolak :D.

Saat aku memutuskan untuk menolak, maka semampuku untuk maksimal beristikharah, bermusyawarah dan berfikir secara lebih mendalam, dan akhirnya, hampir pasti adalah tangis ketakutanku jika keputusaan untuk menolak tak Ia ridhai.

Saat giliranku mendapat penolakan,  beberapa kekecewaan terjadi pada mereka yang terlibat... keluargaku tegas mengatakan kekecewaannya pada sikapku yang seakan tak mau menerima, mungkin karena saat ta’aruf jasadi, aku lebih sering diam, menunduk, dan jika berbicara, intonasiku seperti orang yang ‘merendahkan’, padahal...WAllahi, aku gugup sekali. Seingatku, sepanjang usiaku, tak pernah sekalipun aku berada dalam lingkup kecil yang serius bersama ikhwan, jikapun pernah, pasti hanya saat rapat-rapat organisasi yang serius tapi juga santai karena kalaupun tak berhijab, ruangan kami lumayan luas dan akhwatnya banyak ! Jadi, boleh dibilang aku ini kuper sama ikhwan, tak pandai mengatasi gugup, sehingga ekspresi wajahku pun tak bisa kukendalikan.
Mungkin karena inilah juga si calon menjadi kecewa, apalagi jika sekedar SMS yang dilayangkan untukku pun tak kunjung kubalas, maaf, beribu maaf. Maaf jika karena hal ini kalian menganggapku terlalu idealis, aku tahu kondisi hatiku yang sering tak kondusif untuk niat yang baik, sekecil apapun aku merasakannya. Dan saat SMS itu tertayang, aku merasa bahwa itu adalah ‘ancaman’ yang akan merusak hatiku, maaf...sekali lagi aku memohon maaf, maaf jika caraku menjaga salah...

Begitulah diantara sebabku sering ditolak ikhwan, alasan lainnya adalah fisikku yang tak semampai dan tak secantik pandangan mata ia yang melihat, pun juga karena alasan saklit LUPUS yang pernah kuderita. Ya, terkadang episode hidup ini melukai, tapi sejujurnya, aku lebih senang menerima penolakan ketimbang harus menolak. Aku tak ingin membuat orang lain tersakiti...

Sejak azamku tumbuh, aku lebih menginginkan sosok ikhwan yang tak banyak menginteraksi dalam ta’aruf jelang pernikahanku. Tiba-tiba ia datang menemui keluargaku, mengutarakan niatnya, memberiku kesempatan beristikharah sembari mengenalnya lewat keluarga dan teman-temannya. Ia yang jauh-jauh hari telah memantapkan hati untuk menikah dan mencari informasi tentangku tanpa sedikitpun kutahu.
Dan ini juga pernah terjadi padaku, meski ternyata hanya sebuah kesalahfahaman.

Aku menghargai dia yang menjaga hatiku dengan mengutus seorang temannya -sudah menikah- yang juga temanku ke rumah dan mengutarakan niat. Berbunga-bunga kudapati kabar itu dari kakakku, persis seperti apa yang kuinginkan! Meski nyatanya adalah, si ter-utus terlalu bersemangat dan terburu-buru menyampaikan amanat yang seharusnya adalah untuk mencari informasi hingga beberapa bulan kedepan (entah kapan) dan aku? Memutuskan untuk tak menunggu, lagi-lagi karena aku khawatir kondisi hatiku...Jika proses itu berjalan hingga berbulan bulan lamanya, akankah itu menjadi legalitas ‘pacaran’ atas nama ta’aruf? Aku ngeri...

Dari hatiku yang kutahu teramat kotor ini, yang sedang berusaha kujaga sepenuh mampuku, sekali lagi aku memohon maaf pada keluarga dan kalian yang sempat menjadi bagian episode perjalananku menggenap addin...Aku amat tahu bahwa aku tak sempurna, tak akan pernah! Aku  tak meninggi dengan kondisi fisikku, pun tak lupa sakit yang pernah kurasa, aku bukanlah wanita shalihah, dan samasekali bukan pencari kesempurnaan hingga detail pandangan mata, karena aku pun tahu, sangat tahu bahwa tak pernah ada! Aku hanya seorang yang berusaha agar caraku baik, meski berkali kali awalnya caraku salah, agar caraku membuah ridha dan berkah dariNya... Aku tak ingin menggadai apa yang kuyakini, tapi aku kan tetap belajar, agar selalu husnudzhan itu hadir atas apa yang telah Ia tetapkan....aku kan terus belajar, terus...tak kan sedikitpun berhenti, bahkan sampai ia hadir menemani perjuangan menggapai negeri tanpa letih, menggapai wajahNya yang mulia, dan berkata : “Selamat datang wahai orang-orang yang mencintai karenaKU.”

Aku kan tetap optimis, seperti kata sahabatku “Majulah, habiskan jatah gagalmu!”