Pages

Selasa, 10 September 2013

Perempuan Itu ...




Perempuan itu, seneng banget kalo dibilang cantik, hanya sedikit dari mahkluk halus ini yang ‘cuek bebek’ kalo denger kata ‘cantik’ menimpa dirinya.

Makanya, perempuan itu, seneng banget dandan, mulai dari ujung jari sampe ujung rambut pasti perhatian, ga beda antara yang punya banyak kain sama yang kurang banyak kainnya, mereka mirip soal yang satu ini. Lagi, hanya sedikit dari mahkluk halus ini yang ‘cuek bebek’ soal tampilan zahir mereka.

Intinya, perempuan itu, seneng banget jadi pusat perhatian yang ‘baik’.

Hayo ngaku ?!

Nah, dari ‘kebutuhan’ perempuan sendiri  inilah akhirnya banyak yang kesengsem pengen ikut aneka kontes, biar ‘kebutuhan’nya tersalurkan dan dapat timbal balik berupa :
1.       Dibilang cantik
2.       Dibilang pinter
3.       Dibilang berprestasi
4.       De el el yang merupakan pandangan manusia.

Ditambah lagi, kontes-kontesnya banyak yang mensponsori bahkan sampe tayang ke luar negeri, waaah, asiiiik jadi pusat perhatian!

Gituuu, tuuuh perempuan, ga semuanya sih, contohnya aku yang ga minat ikut-ikutan, selain karena pasti tereliminasi ditahap awal seleksi, aku punya cara pandang lain tentang ‘kebutuhan’ ini.

Aku sesekali nonton kontesnya, sesekali mengunggulkan salahsatu dari mereka, sesekali berdecak kagum dengan detil-detil beauty, brain, behavior mereka, dan sesekali juga ‘iri’.

Satu point penting lagi, beberapa perempuan seneng banget bikin perempuan lain ‘iri’, jadi ga heran lagi kan, kenapa kalo arisan atau pengajian, ibu-ibu maksimal sekali berdandan.

Hey, kau perempuan! Seperti itu jugakah kau? Aku? Karena ini tulisanku, maka inilah juga rasaku sebagai perempuan, tak menyangkal, aku butuh pujian, aku butuh perhatian dan terkadang merasai kepuasan saat kawanku merengek “iiih, bajunya lucuuu, beli dimana?”

Mungkin itu fitrah kita, sista.

Dan pada banyak ‘kebutuhan’ kita, Allah telah memberi jalan terbaik meraihnya.

Berdandanlah secantik yang kau mau, pakailah pakain terbaik yang membuat segala indahmu kian terpancar, sempurnakan penampilanmu dengan parfum terwangi yang kau punya, di depan suamimu, ya, hanya dihadapannya, dan beri tahu ia agar tak malu memujimu.

Dan lagi, jika kau sepertiku yang belum menemukan lelaki bernama suami, sedikit yang ku tahu, saat ‘kebutuhan’ itu kian menumpuk dan kesempatan memenuhinya terbuka lebar dengan sponsor bergengsi dan manusia yang berlomba meraihnya, tanyakan satu hal, “Ridha kah Allah?” dan saat itu pula nurani kita menjawabnya lantang “TIDAK, meski separuh manusia di bumi ini membenarkan, bukan ini yang Allah ingin darimu!” dan kita kembali bertanya, menuntut bahkan “Bilakah jalan Allah itu cepat datang?”.

Pasti ada saat kita seperti itu. Tak mudah memang, mempertahankan iman di saat segala fasilitas duniawi terhidang demi mengiris sedikit iman kita.

*Itu iman, iman yang gelisah.

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan aneka ujian sampai-sampai berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’” (Q.s Al-Baqarah [2] : 214).

Dan saat hal itu terjadi, kita hanya perlu memejamkan mata, meyakinkan keberatan hati kita dengan berkata “Jika ini perintah Ilahi, Dia tidak akan pernah menya-nyiakan iman dan amal kita.”, kemudian kembali melangkah di jalan yang diridhaiNya.

Iman adalah mata yang terbuka,
Mendahului datangnya cahaya
Tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
Dan rasakan hangatnya keajaiban


*inspiring book  : Dalam Dekapan Ukhuwah, gurunda Salim A. Fillah 

Tidak ada komentar: