Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Karena Do'a Kita Terlalu Sedikit

Mengeja satu per satu waktu...Subhanallah...tersadar akan kalimat-kalimat do'a yang kini nyata... Dekat, nyata dan ia terjadi jauuuh lebih baik dari apa yang kita pinta. Ia yang Maha Tahu, tak pernah merasa bosan mendengar rengek kita...bahkan sampai kita sendiri yang merasa bosan... Kemudian do'a-do'a yang mungkin telah lama kita lupakan itu datang...disaat yang tepat...dengan cara tak terduga yang sering kali mengasyikkan. Dalam kertas lusuh yang telah bertahun tak lagi terjamah, sebuah tulisan kecil itu memaksaku mengingat kapan aku menuliskannya, empat tahun lalu! harap itu terukir : "Robbi, aku ingin berada dalam lingkungan penghafal Al-qur'an" Sebuah harap yang dulu terasa mustahil, yang hanya kusampaikan dalam carik-carik kertas yang mulai menguning. Bukan tanpa ikhtiar, harap itu mulai ku retas...mencari...dan kutemukan... Taqdir Allah.. Sekitar tahun 2008 Jalan Pahlawan itu sepi...Mungkin karena deket makam kali ya...hehe. Sebuah gedung d...

Ini Tentang Aku...Semuanya...

Sering kali dalam sebuah komunitas, mereka 'memilih'ku... dan pasti, hampir selalu akan ada bulir-bulir yang menganak sungai . Ini tentang aku, semuanya... Aku yang sensitif, aku yang perfectionist , aku yang penakut, peminder, dan aku yang teramat sedikit bersyukur. Dalam kerja jama'i, posisi ujung piramida itu   selalu (rasanya) kutempatkan di bawah, menopang, sendirian... Aku yang sensitif melihat ekspresi wajah yang hampir pasti menggambarkan ruh  yang sedang bekerja dalam diri. Ini yang sering kali membuatku segan, pada akhirnya aku juga lah yang bekerja sendiri, menghadapi tatap dan fikir aneh orang-orang tentangku : "tidak tegas!". Pun saat orang lain bersedia membantuku, aku selalu merasa lambat, tak serius... Sampai suatu titik puncak tekanan, saat semua orang mulai rewel dan banyak bertanya ini itu tentang kinerja, aku mengeluh...tak pandai 'menutupi' rasa dalam diri membuat orang lain sering merasa 'tak enak' bahkan mereka ya...

Berbuatlah...

Gambar
Menganggap sepele hal-hal kecil, itulah kebiasaan kita. Tahukah? justru disini semua bermula... Pupuklah azam dalam dada bahwa "aku senang menjadi manfaat untuk orang lain". Berawal dari azam ini kan Kau dapatkan kebaikan yang melimpah-limpah. Pernahkah suatu pagi Kau rasakan 'ruh' yang berbeda? begitu bersemangat, optimis, dan secara tak sadar kita menjadi lebih ramah. Mulailah mengingat, apa yang menyebabkan pagi itu terasa istimewa? Ya.... pagi itu Kau mungkin terbangun lebih awal dan kemudian mengganjilkan raka'at shalat malam, mungkin juga Kau telah bertemu dengan orang-orang hebat di awal hari itu, atau bahkan mungkin Kau telah berbuat 'sesuatu' yang membuat orang lain merasa terbantu, meski hal itu terasa begitu kecil. Kemudian senyum itu mengembang dan kemudian mengundang kebaikan-kebaikan lain sepanjang hari. Ini soal kerja kita, Kawan... Menjamahkan tangan pada sesuatu yang membuat orang lain merasa senang adalah kerja yang sederhana. Mari...

Baris Ukhuwah Kita

Gambar
Allhamdulillah.... legaaaaaaa banget setelah selesai ngotak-ngatik komputer buat bikin desain proposal, cape juga ternyata, hmmm...bener kata temen ane : "Kalo orang-orang di bidang IT itu jarang mandi!" hihihi... Awalnya dari ide iseng itu : "Kita bikin acara buat mem-bumi-kan Qur'an yuk, buat akhwat aja dulu, sekalian promosi pondok kita hehehe". Akhirnya ide itu bersambut gayung :D. Dipaksa jadi ketua pelaksana ane nurut aja meski sebenernya ogah-ogahan. Rapat demi rapat berlalu, ba'da isya memang sedikit aneh buat rapat, apalagi kita-kita ini aktifis semua, sering banget perut sama mata demonstrasi bareng, nagih-nagih hak mereka, laper tapi ngantuk...Ga  bakat jadi pemimpin, tiap kali liat wajah kurang antusias, ane malah sering kebawa down, maklum sensitif banget. Pas suatu rapat, ga pengen sebenernya ngungkapin 'gretek' itu, khawatir merubuhkan mental satu asrama, tapi akhirnya keluar juga "'afwan, ane khawatir klo ternyata rapat...

Ummi, Inspirasi Tak Bertepi

Gambar
Pagi masih gelap, tapi langkahnya tengah lincah menjelajah pasar. Kotak seng depan masjid yang ia lewati berbunyi lembut, mungkin ialah orang pertama pagi itu yang mengisinya, selalu. Selepas berbelanja, langit telah merekah, kini giliran tangan lincahnya mengolah rumus-rumus sederhana yang selalu jadi istimewa. Ikan tongkol. tahu dan sambal, sarapan pagi sepiring berdua itu terasa romantis, nikmat dan membuat kami semakin lahap menandaskan porsi yang beronde-ronde. Gemericik kamar mandi pertanda Ummi tengah mandi dan bersiap mengenapkan raka'at-ain dhuhanya. Hmmm...kegiatan rutin yang tak pernah disadarinya. Iqro' itu tersa sulit, mengajarinya mengeja tak semudah mengajaknya berbelanja. Tak sabar, itu yang sering kurasakan. "Andai dulu belajar dengan baik, tentu tak akan ada penyesalan sebesar gunung ini." lirihnya, ah ummi...bukan salahmu jika sekolah dasar pun tak sempat kau tuntaskan, kepandaianmu berhitung telah cukup membantu kesibukan kakek sebagai saudagar...

Al-waajibaat Aktsar min Al-auqaat

Tak ingin berkeluh sebenarnya, hanya saja gatal tangan ini yang akhirnya membuat huruf-huruf tak beraturan ini (awalnya tulis tangan) tumpah. Semoga manfaat ya Kawan... Pekan ini, rasa mepet itu makin menjadi. Pelatihan desain grafis, setor hafalan, kuliah, persiapan tasmi', hafalan hadits, nyuci, nyetrika waaah...pegeeel...Hingga kemudian saudara sekamarku nyeletuk "Teh Ilih sekarang kurusan ya?!" hmm...antara senang, senang dan senang :D Begitulah Kawan, waktu yang begitu sempit kurasa, mungkin juga karena aku yang belum bisa mengatur waktuku dengan baik. Iri rasanya melihat saudara-saudaraku yang bisa merutinkan qyamullail nya lebih cepat, jam satu pagi, jam dua pagi ah...kapan aku bisa begitu? Dan tahukah? mataku kaca saat kuingat sebuah kewajiban yang lebih besar : DAKWAH (kebutuhan seharusnya) Suatu waktu kubuka situs ikhwahgaul.com, ah...aku cemburu!!! terlebih ketika kutahu rentang usia mereka yang berkiprah di dalamnya, jauh...jauh lebih muda dariku T_T. ...

Izinkan Aku Syahid

Gambar
Langit jingga semakin merah, senyap dan sunyi hanyalah harapan disini. Desau peluru, bau mesiu hingga bau anyir darah merebak, mengusik saraf-saraf hidung yang enggan menangkap. Setelah Palestina lepas dari pemerintahan yang dipimpin khalifah Utsman satu abad silam, negeri yang awalnya damai kini membara. Kaum Zionis Yahudi mengambil lima puluh lima persen tanah subur Palestina dan memberikan empat puluh lima persen tanah tak layak pertanian untuk satu juta penduduk muslim yang terusir dari rumah mereka sendiri. Malam ini, usai shalat isya, Umar kembali bermuraja'ah, hafalan Al-qurannya kini genap tiga puluh juz. --- Pagi kembali dengan membawa sejuta cerita kesedihan. Seorang anak ditemukan tewas tergeletak dengan tubuh penuh lubang peluru. "Usman, sabarlah..." Pagi itu suara Umar bening, namun hatiku sakit, air mataku meleleh. "Kenapa ini harus selalu terjadi padaku?" "Usman, Kau harus tegar!" Bisik Umar. "Tegar? harus sampai ka...