Postingan

Pra Nikah Al-Qur’an Asyiiiiiik.....

Subhanallah... Sepanjang hari, setelah setoran hafalan yang 'seru' itu aku tersipu-sipu...  Mengingat kembali sebuah kisah, saat sang gagah nan pemberani 'Umar ibn Khathab mencarikan sosok suami ideal untuk putrinya Hafsah. 'Utsman ibn 'Affan saat itu belum lagi ingin menikah, kemudian dengan gontai ia menuju rumah Abu Bakr yang saat pengajuan itu disampaikan, ia hanya terdiam... Lalu sampailah ia pada Rosulullah yang ternyata bersedia menikahi Hafsah yang telah menjadi janda. Subhanallah....Subhanallah...dan saat 'Umar kembali bertemu Abu Bakr, ia berkata "Maafkan aku karena tak menanggapi tawaranmu, 'Umar. Sandainya tak kudengar Rosulullah menyebut-nyebut nama Hafsah, tentu kan kunikahi ia." Hmmm...Kemudian aku kembali tersipu malu... " Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginamu) dalam hati.   Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka . Tetapi janganlah ...

Ikhwan Pertamaku

Gambar
Ia ikhwan pertama yang kukenal. Aktifitas dakwahnya lah yang membuatku jatuh hati. Di rumahnya yang hangat, seringkali menjadi semakin hangat   dengan banyaknya makhluk-makhluk berjenggot tipis dan jilbab-jilbab lebar yang berkibar anggun. Damai... Jaket dongker berlapis merah yang ia kenakan berjahit dakwah, dakwah yang cerah secerah pemiliknya. Sandal jepitnya yang sederhana menghilang saat lingkaran-lingkaran mingguan berlangsung.      Ah... ia sempurna, ia yang tak tinggi hati untuk memikul susu lalu menjualnya di pasar pagi, ia yang dengan semangat mengumpulkan pakaian-pakaian layak pengisi bazar murah bagi rakyat desa yang semarak menyambut kerjanya. Ia seperti ‘Umar yang tak pernah mau kompromi dengan kejahiliahan. Suatu waktu di sekolah, hingar bingar teriakan dan gerak-gerak tak karuan anggota ekskul itu mengusiknya, ia yang menjadi pemimpin masjid sekolahnya tak rela musik itu menyentak-nyentak kehkusyuan   para pemuda yang kelak kan mendapat se...

Futur itu Bikin Keren

Menjadi seorang musafir yang tak tahu jalan, terkadang kita terperosok kedalam cekungan-cekungan tanah. Mungkin itulah futur , saat kita terjebak dalam sebuah lubang cekung raksasa tanah gembur yang justru sedang asyik-asyiknya kita tanami. Semakin dalam futur itu , maka kan terasa semakin gelap, sesak... Kondisi yang tak nyaman, hampir pasti selalu membuat sang pelakunya 'bergerak', entah karena ia gelisah ataupun karena rencana-rencana yang telah ia susun untuk meninggalkan kondisi tak nyaman itu. Bayangkan saat kita terjebak dalam sebuah lubang yang pengap, setidaknya kaki kita kan menjejak-jejak agar dapat menggapai  pinggiran lubang dan kemudian keluar. Maka itulah juga yang seharusnya kita lakukan saat futur menjebak kita, menjejak-jejakkan kaki...memaksakan diri bergerak meski teramat berat...Sedikit demi sedikit, jejakan kaki kita kan membentuk anak tangga menuju kembali tanah datar nan terang, bahkan saat kita mencapainya dengan payah, kita kan semakin besyuk...

Tak Hanya Untuk Kita...

Proyek akhirat itu telah berakhir, menyisakan sebuah perasaan aneh yang membuatku sering merenung... Seminar muslimah bertema Cantik Bersama Al-Qur'an adalah garapan kami yang pertama. Semata karena pertolongan Allah, acara itu memikul sukses yang tak terperi. jumlah peserta yang memuaskan, pemateri yang diluar dugaan ternyata begitu luar biasa, hingga carik-carik pesan kesan yang membuat diri ini 'merinding' nyaris tak percaya... Sampai ketika seorang mempertanyakan 'untung' yang didapat. Sementara karena proyek itu, banyak hari yang terlewat tampa hafalan yang bertambah, dhuha-dhuha yang sering kali membuatku berteriak " maa sya Allah...terlewat!" dan 'amaliyah   lain yang nyaris tak pernah maksimal. khoirunnaas anfauhum linnaas... Satu-satumya nasehat yang membuatku bersyukur. Beruntung selalu ada 'ayah' yang kembali menguatkan...Bahwa tak seharusnya 'untung' diri itu menjadi tolak ukur, lihatlah dari lebih banyak sisi, bahwa...

Menggambar Penikahan Kita

Gambar
Menggambar sebuah pernikahan... Inspirasi-inspirasi itu memenuhi jalan fikirku, seharian bahkan menbuat bekas-bekas yang sering kali membuatku...'ingin' seperti mereka... Berawal dari sebuah pondok ilmu yang bertahun ditinggal, ke dua orang itu hanya sebatas kenal, tak pernah tahu lebih dari hanya sekedar nama...takdir Allah jua yang akhirnya mempertemukan mereka kembali, di sebuah tempat para penghafal qur'an. Menyelesaikan hafalan sekaligus akademik dengan gemilang (menurutku) diusia muda dan kemudian 'menjemput' sang bidadari yang ternyata telah dikenalnya bertahun lalu..."kita dipertemukan bukan karena cinta, tapi karena cita-cita" kenangnya...Dan di bulan-bulan awal pernikahan mereka, anugrah Allah itu begitu dekat, ruh kecil itu berdetak dalam lantunan tilawah sang istri yang kemudian sukses merampungkan tiga puluh juz hafalannya...Subhanallah... Berbeda...dan lihat barokah itu pada keduanya.... Ini kisah lain yang menjejak dalam... Wanita it...

Karena Do'a Kita Terlalu Sedikit

Mengeja satu per satu waktu...Subhanallah...tersadar akan kalimat-kalimat do'a yang kini nyata... Dekat, nyata dan ia terjadi jauuuh lebih baik dari apa yang kita pinta. Ia yang Maha Tahu, tak pernah merasa bosan mendengar rengek kita...bahkan sampai kita sendiri yang merasa bosan... Kemudian do'a-do'a yang mungkin telah lama kita lupakan itu datang...disaat yang tepat...dengan cara tak terduga yang sering kali mengasyikkan. Dalam kertas lusuh yang telah bertahun tak lagi terjamah, sebuah tulisan kecil itu memaksaku mengingat kapan aku menuliskannya, empat tahun lalu! harap itu terukir : "Robbi, aku ingin berada dalam lingkungan penghafal Al-qur'an" Sebuah harap yang dulu terasa mustahil, yang hanya kusampaikan dalam carik-carik kertas yang mulai menguning. Bukan tanpa ikhtiar, harap itu mulai ku retas...mencari...dan kutemukan... Taqdir Allah.. Sekitar tahun 2008 Jalan Pahlawan itu sepi...Mungkin karena deket makam kali ya...hehe. Sebuah gedung d...

Ini Tentang Aku...Semuanya...

Sering kali dalam sebuah komunitas, mereka 'memilih'ku... dan pasti, hampir selalu akan ada bulir-bulir yang menganak sungai . Ini tentang aku, semuanya... Aku yang sensitif, aku yang perfectionist , aku yang penakut, peminder, dan aku yang teramat sedikit bersyukur. Dalam kerja jama'i, posisi ujung piramida itu   selalu (rasanya) kutempatkan di bawah, menopang, sendirian... Aku yang sensitif melihat ekspresi wajah yang hampir pasti menggambarkan ruh  yang sedang bekerja dalam diri. Ini yang sering kali membuatku segan, pada akhirnya aku juga lah yang bekerja sendiri, menghadapi tatap dan fikir aneh orang-orang tentangku : "tidak tegas!". Pun saat orang lain bersedia membantuku, aku selalu merasa lambat, tak serius... Sampai suatu titik puncak tekanan, saat semua orang mulai rewel dan banyak bertanya ini itu tentang kinerja, aku mengeluh...tak pandai 'menutupi' rasa dalam diri membuat orang lain sering merasa 'tak enak' bahkan mereka ya...