Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Aku Ingin Tahu Rasanya Rugi

Gambar
"Aku ingin tau bagaimana rasanya kerugian." serunya. Ya, dari sekian banyak kegiatan bisnisnya ia adalah ahli yang tak pernah kenal istilah rugi. ----- Dari kemapanan hidup di kampung halamannya yang memang adalah kampung para saudagar, ia berhijrah, meninggalkan kerajaan bisnisnya yang dibangun bertahun lamanya dengan tak membawa apapun selain bekal  ta'at pada Allah dan Rosul. Di Yatsrib, kota para petani itu, ia dipersaudarakan Rosulullah dengan  Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari yang juga kaya. Abdurrahman pernah ditawari Sa'ad untuk memilih kebun yang paling ia sukai dari dua kebun miliknya, bahkan dari dua istri yang ia miliki, dan Abdurrahman hanya tersenyum, berterima kasih dan meminta satu hal : "Tolong tunjukan padaku arah pasar, saudaraku." Di pasar itu ia kembali memulainya dari nol, dari menjadi kuli angkut barang, kemudian menjadi makelar. Bisnisnya kian berkembang dan menghasilkan uang yang cukup untuk membeli sepetak kios di pasar terseb...

Kristal

Gambar
Menggayut rindu, tapi aku malu... Pada ia yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Pada ia yang kutitipkan namaku dalam do'a. Kenapa kau memilih butir air yang sekilas adalah air mata? Dalam setiap ucapanmu, ada selaksa tajam yang sering mengirisku, maka kau seharusnya air yang mengkristal dalam gelap.

PR lagi buat Kang Emil...

Gambar
Ahad, 9 Juni 2013 aku, tetehku bersama para pedagang kaki lima yang jumlahnya hampir seratus melakukan negoisasi bersama warga Metro atas masalah ‘kesemrawutan’ wilayah tersebut setiap minggu. Hanya satu minggu sekali, itupun tidak mendesak waktu shalat dzuhur, jam 11.00 WIB biasanya kami telah selesai menjaja dagangan. Kang Emil jadi saksi atas kejadian pagi itu. Diiringi para penjaganya, tetehku yang berada di belakang berteriak pelan- menyadari bahwa ini belumlah menjadi wewenang calon walikota Bandung itu, “Kang, kumaha ieu teh?” Padahal setiap kali kami berjualan, para pemalak itu rajin sekali mengumpul pajak. Kali ini, seminggu sebelum pasar kaget Metro kembali digelar, warga telah protes dan bersiap memasang atribut bertuliskan “PKL dilarang berjualan” dan para pemalak itu hilang ditelan semarak pedagang kecil yang khawatir akan nasib dagangannya yang telah siap memenuhi pasar jelang lebaran. Hanya seminggu satu kali, Kang. Jika kami membuat macet, jalan-ja...